Selasa, 27 Desember 2011

LEGAL ARTIST SERIES #3: IN BETWEEN by Kurniadi Widodo

IN BETWEEN
Dalam pameran kali ini, Legal Artist #3 akan mempersembahkan karya-karya Kurniadi Widodo dalam sebuah pameran berjudul ‘IN BETWEEN’. Disini Kurniadi Widodo akan memamerkan 10 karya yang akan dipresentasikan sebagai wallpaper di galeri. Dari sepuluh karya ini publik bisa melihat bagaimana seniman bisa mengekploitasi salah satu fitur terpenting dari fotografi, yaitu framing. Praktek framing yang ia lakukan merupakan kunci yang membedakannya dengan karya-karya yang dihasilkan fotografer lain. Kurniadi Widodo tidak mendasarkan diri pada hubungan-hubungan antar obyek yang terberikan, bahwa kenyataan tidak dia rekam sebagaimana adanya. Dialah yang mengatur hubungan-hubungan antar benda tersebut.

Coba amati bagaimana ia dengan sengaja mengambil angle tertentu sehingga sebuah tugu dan kebun jagung menjadi sebuah peristiwa baru yang seolah memiliki hubungan; atau bagaimana sebuah gambar kuda di tembok, kabel listrik dan bayangannya, dan batang-batang pohon menjadi sebuah kesatuan peristiwa. Dari kedua gambar diatas, kita bisa nyatakan bahwa hubungan-hubungan yang terjadi tidaklah ada begitu saja, tapi dengan sengaja diberikan dan dinyatakan oleh fotografernya. Begitupun jika kita liat pada karya-karya lainnya; kita akan minimal menyadari bahwa ada upaya aktif dari fotografernya untuk memberikan sebuah pemahaman baru atas kenyataan yang ia rekam tersebut.

Program Legal Artist Series ini tidak melulu soal seniman muda berbakat atau karya yang bagus, namun lebih jauh menuntut bahwa artist dan karya yang di pamerkannya harus memiliki kekuatan di inovasi, tradisi dan masa depan. Yang di pertimbangkan adalah bahwa praktek kesenian yang dijalankan memiliki akar yang kuat serta memiliki kemungkinan pengembangan, baik dari sisi wacana hingga teknik-artistiknya. Sedangkan inovasi yang aku maksud adalah pada penemuan cara-cara baru, subject matter serta estetika-estetika baru.

In Between dalam presentasinya mencoba meyakinkan publik, bahwa keraguan utk menjadikan karya seni lebih fungsional bisa diatasi dengan cara yang cerdas. Pilihan untuk menjadikan karya-karya dalam In Between ini menjadi wallpaper sebenarnya berangkat dari pemahaman bahwa teknologi dan material wallpaper ini udah jamak, dan kemungkinan-kemungkinan aplikasinya dalam fotografi juga bukan barang baru. Persoalannya hanya perlu mencari kemungkinan-kemungkinan artistik yang sesuai, disini Legal Artist Series memberikan penegasan bahwa teknik dan material ini acceptable... anda sendiri bisa menilainya.

/ Tentang Legal Artist Series
Legal Artist Series adalah Program yang digagas oleh Ruang MES 56 untuk melegalkan seniman yang dengan serius menggunakan medium fotografi sebagai alat untuk menyampaikan gagasan inovatif secara visual dan pengembangan dalam teknik presentasi, serta sebagai laboratorium seniman dalam interaksi ruang dan publiknya.

Legal artist Series #1 (2006), Beyond Coca-cola oleh Edwin Dolly Roseno, Kurator oleh Angki Purbandono
Legal Artist Series#2 (2009), Pingpong Education System oleh Anang Saptoto, Kurator oleh Angki Purbandono

/ Tentang Seniman
Kurniadi Widodo, lahir di Medan pada tahun 1985, mengenal dan mempelajari fotografi secara otodidak sejak tahun 2006 pada saat menempuh pendidikan di jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan di Universitas Gajah Mada (2003-2006), juga sempat kuliah di jurusan Fotografi di Akademi Desain Visi Yogyakarta (2006-2007), walau keduanya akhirnya ditinggalkan.

Dalam berkarya di bidang fotografi memilih jalur dokumenter, dengan ketertarikan utama pada pendokumentasian visual perkotaan dan isu-isu urban. Pada tahun 2010, bersama 7 orang fotografer muda lainnya membentuk Cephas Photo Forum, forum fotografi yang berfokus pada diskusi aktivitas fotografi. Saat ini tinggal dan bekerja sebagai fotografer lepas di Yogyakarta.

Venue | Rumah Kelas Pagi Yogyakarta
Jl. Brigjen. Katamso - Prawirodirjan MG II /1226
Yogyakarta

Performance by in between magician: Kadir Risqiano

Exhibition I 28 Dec 2011 - 10 Jan 2012
Conversation | 7 Jan 2011 | 16:00 WIB | 4 pm

Programmer | Ruang MES 56
Partner | Kelas Pagi Yogyakarta
Media | jogjanews.com

Kamis, 08 Desember 2011

Presentasi Foto Juxta Position "Perfection is Imperfection"



2 Desember 2011 di Kelas Pagi Yogyakarta para fotografer yang ikut serta dalam pameran mempresentasikan hasil karyanya masing masing di hadapan penelis mereka masing-masing dan para pengunjung pameran yang kebetulan datang melihat.dengan kegiatan seperti ini diharapkan para fotografer lebih dapat mempertanggung jawabkan dan menjadikan kebiasaan di setiap pameran atas foto mereka masing masing.
Panelis yang hadir pada waktu presentasi adalah :


Yudha ( Kelas Pagi Jakarta )

Sebagian peserta Pameran dan teman teman KPY yang hadir.

Kesimpulan dari hasil presentasi beberapa foto tersebut dapat kami rangkum sebagai berikut :

1). Judul Foto : Jendela Dunia Kita

Fotografer : Romulus Alfianto
Masukan Teknis :
Komposisi subjek elemen [MacBook dan buku] kurang seimbang.
Bisa dipertimbangkan peletakkan lilin justru dibelakang [BG] sehingga akan tampak tidak terlalu dominan.
Tangkap / visualisasikan indikator batre low, dgn background buku dan lilin
Story / Konsep vs Visualisasi : masih harafiah (lugu)
Story yang ingin disampaikan :

Apple adalah sebuah representasi antara kecanggihan teknologi dan gaya hidup manusia saat ini. Dengan tinggal menggunakan aplikasi tertentu kita sudah dapat membaca, melihat dan mendengar berbagai macam media visual, audio ataupun audio visual. Namun kecanggihan teknologi tersebut menjadi kurang manis ketika kita kehilangan energi listrik. Dengan tidak adanya energy listrik, maka apple tidak akan dapat dioperasikan dan pada akhirnya format buku konservatif atau cetak yang mempunyai peran besar dalam pemborosan energy di dunia dapat tetap berfungsi walaupun listrik itu mati.




2). Judul Foto : "Habitat Mewah".


Fotografer : Nur ( thitut )
Masukan Teknis :
Cukup.
Story / Konsep vs Visualisasi : Riset yang baik, resourceful, elemen dalam subjek sangat bisa dipertanggungjawabkan.
- Tanaman Hydroponic
- Gelas Wine
- Air merah [syrup] + Es.
Story yang ingin disampaikan :
"Gelas bukan pada tempatnya menjadi habitat tumbuhan, tetapi di dalam gelaslah tumbuhan jadi terlihat lebih Sempurna."